facebook

Hikmah di Balik Lemahnya Rupiah

Jumat, 14 September 2018 - 08:11:26 WIB
Diposting oleh : Berry
Hikmah di Balik Lemahnya Rupiah

Berrykitchen.com > Tips > Lifestyle > Hikmah di Balik Lemahnya Rupiah

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang sempat menyentuh angka Rp 15.000 membuat banyak orang kebakaran jenggot. Namun, jika kita mau melihat dari berbagai sisi, kondisi ini tidak selalu berdampak buruk.

 

Agar lebih memahami akar masalahnya, yuk, kita pahami dulu penyebab rupiah melemah terhadap dolar AS:

 

Penyebab Rupiah Melemah

Krisis ekonomi Amerika Serikat pada 2008 membuat Bank Sentral Amerika The Fed melakukan stimulus ekonomi (quantitative easing). Langkah yang diambil adalah mencetak dolar lebih banyak, membeli obligasi, serta menyalurkan dolar ke pasar emerging market, termasuk Indonesia. Akibatnya, mata uang dunia menguat terhadap dolar dan inflasi AS meningkat.

 

Namun, sejak Mei 2013, Gubernur The Fed Ben Bernanke menghembuskan rencana pemangkasan quantitative easing melihat ekonomi AS mulai pulih. The Fed menaikkan suku bunga serta menjual obligasi agar dolar di seluruh dunia kembali ke Amerika. Dolar menjadi langka tapi tetap diburu untuk keperluan transaksi. Inilah awal melemahnya mata uang global terhadap dolar AS.

 

Kenaikan suku bunga di Amerika memicu para investor mengalihkan dananya dari aset-aset keuangan di negara berkembang seperti Indonesia ke aset berbasis dolar AS. Hal ini berpengaruh cukup signifikan karena kepemilikan asing di surat berharga negara (SBN) 30-40% dan saham di bawah 50%. Performa investasi portofoliopun turun.

 

Selain itu, perang dagang AS dan Tiongkok membuat Tiongkok merespons dengan melemahkan nilai tukar yuan. Hal ini menyebabkan produk asal Tiongkok mengalami penurunan harga dan invasi produk negeri asal hidangan Chicken Kungpao tersebut ke seluruh dunia meningkat, termasuk ke Indonesia. Padahal, Tiongkok dan Amerika adalah dua negara terpenting untuk ekspor Indonesia.

 

Pelemahan mata uang dunia terhadap dolar AS juga membuat permintaan akan komoditas menurun. Akibatnya, harga komoditas andalan ekspor Indonesia anjlok.

 

Seharusnya, saat rupiah melemah, ekspor naik. Tapi karena produk ekspor Indonesia didominasi barang komoditas yang harga dan permintaannya sedang jatuh, kontribusi ekspor terhadap nerasa perdagangan tidak signifikan. Hal ini memperburuk pelemahan rupiah.

 

Impor barang modal dan konsumsi yang melonjak sejak enam tahun terakhir turut menekan neraca perdagangan Indonesia. Penurunan impor di satu tahun terakhirpun tak sanggup menahan laju pelemahan rupiah. Perekonomian Indonesia mengalami defisit neraca pembayaran dan neraca perdagangan. Transaksi berjalan lebih besar dibanding transaksi modal dan finansial.

 

Nilai rupiah juga semakin terpuruk akibat distribusi likuiditas valuta asing yang tidak merata dan hanya beberapa perusahaan yang melakukan lindung nilai (hedging). Lambannya peningkatan konsumsi domestikpun membuat pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia kurang optimal.

 

Sisi Positif Pelemahan Rupiah terhadap Dolar AS

Pelemahan rupiah memang sangat berdampak pada sektor usaha yang mengandalkan bahan baku atau produk impor. Contohnya adalah barang-barang elektronik yang masih sangat mengandalkan produk dari luar negeri. Akibat dolar naik, harga barang-barang elektronik akan jadi makin mahal.

 

Beban utang pemerintah yang menggunakan mata uang asing juga akan terasa semakin berat. Selain itu, anjloknya nilai tukar rupiah yang terjadi dalam waktu lama akan meningkatkan laju inflasi. Hal ini juga merugikan masyarakat Indonesia yang akan berpergian ke luar negeri.

 

Bagaimanapun juga, selalu ada sisi negatif dan sisi positif dari setiap hal. Inilah beberapa pihak yang merasakan keuntungan saat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sedang lemah seperti sekarang:

 

  • Sektor usaha berbasis sumber daya seperti perkebunan kelapa sawit
  • Sektor usaha berbahan baku lokal dan berorientasi ekspor seperti kerajinan tangan dan rotan. Sebab, walaupun barang yang mereka jual ke luar negeri harganya sama, tapi karena dibayar dengan dolar, pebisnis dapat menikmati selisih nilai tukar dolar AS terhadap rupiah.
  • Sektor pariwisata. Turis asing akan banyak datang dan berbelanja di Indonesia melihat betapa murahnya biaya hidup di sini.
  • Pekerja bergaji dolar, misalnya internet marketer yang banyak menggunakan dolar saat bertransaksi.
  • Money changer. Tingginya harga dolar AS membuat banyak orang menukarkan simpanan dolarnya ke rupiah untuk mendapat untung. Money changer-pun kebanjiran pengunjung.
  • Reksadana dolar

 

Secara umum, Indonesia akan merasakan efek positif sebagai berikut:

  • Produk buatan Indonesia akan menjadi lebih kompetitif di pasar dunia. Kenaikan ekspor dapat memacu pertumbuhan ekonomi Indonesia jangka pendek.
  • Produk lokal bisa berjaya di negeri sendiri. Berbeda dengan barang impor yang makin mahal, harga produk dalam negeri cenderung stabil. Hal ini akan membuat masyarakat Indonesia lebih banyak menggunakan karya buatan anak negeri.
  • Penerimaan pajak meningkat akibat harga barang-barang impor yang naik.

 

Tidak perlu panik menghadapi situasi ini. Bukan cuma rupiah yang melemah, melainkan juga beberapa mata uang asing. Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, mata uang Indonesia bukanlah yang paling terpuruk meski juga bukan yang terbaik.

 

Para pakar ekonomipun meyakinkan bahwa kondisi ini berbeda dengan krisis moneter 1998 dan Indonesia sudah berpengalaman menghadapi situasi serupa. Jadi, tetap optimis keadaan akan membaik, ya, Berrykitcheners.

 

Foto: https://hargatop.com

 

Kata Kunci: Hikmah di Balik Lemahnya Rupiah
Bagikan ke teman Kamu

Gunakan voucher sebelum waktu habis 00 : 00
tutup